Assa’idiyyah Peringati Maulid, Kiai Imam: Cinta kepada Nabi Itu Ruhaniyah

Kiai Imam Nawawi, Lc sedang menyampaikan mauizah hasanah di serambi masjid Assa’idiyyah (13/9) Foto: ITC Asd

Assaidiyyah.id: Pondok Pesantren Assa’idiyyah Gedongan kembali menyelenggarakan Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H. Mengangkat tema “Meneladani Akhlak Rasulullah dalam Ibadah, Mengaji, dan Pendidikan Pesantren”, kegiatan ini diisi mau’idzah hasanah oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Kiai Imam Nawawi, Lc.

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Imam menyampaikan bahwa Nabi Muhammad SAW merupakan sosok teladan dalam seluruh aspek kehidupan. Terkhusus dalam hal ini, ia mengungkapkan definisi cinta hakiki yang dijelaskan dalam literatur kitab klasik karangan ulama terdahulu.

“Yang namanya cinta adalah hati kalian selalu condong terhadap sesuatu yang diinginkan, begitulah pepatah ulama mengatakan,” ujar yang juga Rais Syuriah MWC NU Kecamatan Pangenan, di halaman Masjid Assa’idiyyah pada Sabtu, 13 September 2025.

Ia menjelaskan bahwa cinta terbagi dua, yakni cinta terhadap hal-hal yang tampak dan yang tidak tampak. Sebagai contoh, seseorang bisa menyukai lagu karena enak didengar, bisa senang terhadap suatu makanan tertentu karena sudah mencicipinya.

“Sampean seneng lagunya Keisya Levronka, kenapa sampean seneng lagunya Lyodra, karena didengarkan lagunya enak, kenapa sampean seneng seblak dan makanan kesukaan lainnya karena enak dirasakan,” ucapnya.

Namun, kata Kiai Imam, ada pula cinta yang bersifat batin, ruhani, dan intelektual. Termasuk cinta kepada para guru, kiai, ulama dan Rasulullah SAW, yang bukan karena rupa, tetapi karena keterikatan hati.

“Tapi juga ada cinta yang berbentuk batiniyah, aqliyah, ruhiyah, yaitu cinta yang susah didefinisikan, karena ia tidak bisa dilihat, dia tidak bisa didengarkan, tapi kemudian hati kita tergerak, tersentuh setiap namanya disebut,” jelasnya.

Menurutnya, hati yang dipenuhi cinta kepada Rasul akan bergetar saat nama beliau disebut, senantiasa mengingat Nabi dalam segala situasi dan kondisi.

“Maka, hati kita bergetar, matanya kita mengeluarkan air mata karena ingin melihatnya. Yaitu cinta kita karena akhlak yang pernah dicontohkan oleh junjungan kita, kekasih kita, nabi kita, kecintaan kita Nabi Muhammad SAW,” tegas Kiai yang berasal dari Rembang, Jawa tengah itu.

Menutup tausiyahnya, Kiai Imam mengajak para santri untuk terus menghidupkan selawat dan mengenang Nabi dalam aktivitas keseharian, agar kelak mudah-mudahan mendapatkan syafaatul ‘udzma Baginda Rasulullah SAW.

“Mari kita rindu yang mengekang, dan senantiasa menyebut nama Nabi Muhammad SAW secara berulang-ulang. Setelah mandi bersholawat, mau mandi bersholawat, semuanya aktivitas kita diwarnai dengan membaca Shalallahu ala Muhammad, shalallahu alayhi wasallam,” imbuhnya.

“Maka kalau seperti itu, in syaa Allah kita akan ikut rombongan Rasulullah shalallahu alayhi wasallam diajak sowan bersama kanjeng Nabi di surganya Allah subhanahu wata’ala,” pungkasnya.