Profil Ketua IDAI Jawa Tengah Periode 2024–2027: Dr. dr. Moh Syarofil Anam, M.Si. Med., Sp.A

Dr. dr. Moh Syarofil Anam, M.Si. Med., Sp.A Foto: Media ITC Asd

Assaidiyyah.id: Pengasuh Pondok Pesantren Assa’idiyyah Gedongan memulai perjalanan kariernya di bidang kedokteran, yakni beliau Dr. dr. Moh Syarofil Anam, M.Si.Med., Sp.A, atau yang akrab disapa dr. Anam, beliau mukim bersama keluarga dan para santri di Kota Atlas, yakni Semarang, Jawa Tengah.

Perjalanan hidup manusia sering kali sulit ditebak. Sesuatu yang awalnya tidak disukai bisa menjadi hal yang paling dicintai. Begitu pula kisah tentang minat yang berawal dari rasa takut, seperti pengalaman dr. Anam.

Awal kariernya dimulai sebagai dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT) di Sintang, Kalimantan Barat. Selama dua tahun bertugas di provinsi berjuluk Seribu Sungai itu, beliau menghadapi banyak tantangan, termasuk menangani pasien anak-anak. Di awal, beliau merasa kurang kompeten dalam menghadapi penyakit anak sehingga kerap ikut menangis saat pasien anak menangis.

Sementara itu, sebagai dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT) di Puskesmas, dr. Anam awalnya berusaha menghindari kasus anak. Namun, tugasnya mengharuskan untuk tetap menangani mereka, terutama bayi dengan imunisasi dan anak penderita TBC. Dari sinilah beliau mulai sering tampil di masyarakat memberikan penyuluhan tentang TBC anak.

Menariknya, kegiatan penyuluhan inilah yang menjadi titik balik kariernya. Ia merasa terpanggil untuk mendalami dunia kesehatan anak dan akhirnya melanjutkan pendidikan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Ilmu Kesehatan Anak di Universitas Diponegoro. Setelah lulus, beliau menjadi dokter dan pengajar di RSUP dr. Kariadi/Fakultas Kedokteran Universitas Dipenogoro serta aktif di Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sejak 2011 hingga sekarang.

Flyer Selamat dan Sukses atas terpilihnya Ketua IDAI Jawa Tengah, Foto: Media ITC Asd

Visi dan Misi di IDAI Jawa Tengah

Menurut dr. Anam, dunia kesehatan anak di Indonesia membutuhkan transformasi organisasi agar para dokter spesialis anak dapat menjalankan tugasnya dengan lebih efektif. Ia menekankan bahwa IDAI harus menjadi organisasi yang kuat, menyenangkan, serta mampu memahami kebutuhan anggotanya.

“Visi kita adalah menjadikan IDAI Jawa Tengah sebagai rumah yang menyenangkan bagi seluruh anggota,” ujarnya dikutip pada Selasa, 11 November 2025.

Transformasi yang dimaksud meliputi adaptasi terhadap kemajuan teknologi dan dunia modern, dengan fokus pada pelayanan kesehatan, pengabdian masyarakat, dan tanggung jawab terhadap pasien. Untuk mendukung hal itu, diperlukan pembaruan kompetensi dokter secara terus-menerus, termasuk dalam bidang kedokteran, keprofesian, program pemerintah, teknologi Artificial Intelligence (AI), hingga investasi.

Foto Bersama Keluarga

Filosofi Hidup Sang Ketua

Selain sebagai pengajar dan dokter spesialis, dr. Anam dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan kesehatan. Ia sering turun langsung ke masyarakat, sekolah, pesantren, hingga panti asuhan untuk memberikan edukasi dan pelayanan kesehatan anak.

Di sisi lain, sebagai Ketua IDAI Jawa Tengah, beliau juga memfasilitasi kegiatan peningkatan kompetensi dokter anak yang dilaksanakan rutin setiap bulan.

Tentang filosofi hidupnya, dr. Anam mengaku terinspirasi oleh pesan orang tuanya untuk menjadi manusia yang bermanfaat dan tidak menyusahkan orang lain. Beliau juga berpegang pada firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 217:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu.” ungkap dokter yang juga akrab disapa Kang Opi itu.

Bagi dr. Anam, manusia cukup berusaha sebaik mungkin tanpa perlu terlalu meyakini bahwa sesuatu pasti benar atau salah. Yang penting adalah tetap berbuat baik dan tidak menghina atau membenci orang lain.

Tak hanya itu, foto-foto dalam profil ini menampilkan dr. Anam bersama keluarga, saat melayani pasien anak di RS Kariadi Semarang, hingga kegiatan pendakian gunung yang menjadi hobinya. Semua mencerminkan sosok dokter yang rendah hati, aktif, dan berdedikasi untuk dunia kesehatan anak di Jawa Tengah.

Melayani pasien di Poliklinik Anak, RS. Kariadi Semarang
Di tengah teh kebun kayu Aro, Sebelum pendakian ke gunung Kerinci 2022. Foto: Media ITC Asd

Assa’idiyyah Peringati Maulid, Kiai Imam: Cinta kepada Nabi Itu Ruhaniyah

Kiai Imam Nawawi, Lc sedang menyampaikan mauizah hasanah di serambi masjid Assa’idiyyah (13/9) Foto: ITC Asd

Assaidiyyah.id: Pondok Pesantren Assa’idiyyah Gedongan kembali menyelenggarakan Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H. Mengangkat tema “Meneladani Akhlak Rasulullah dalam Ibadah, Mengaji, dan Pendidikan Pesantren”, kegiatan ini diisi mau’idzah hasanah oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Kiai Imam Nawawi, Lc.

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Imam menyampaikan bahwa Nabi Muhammad SAW merupakan sosok teladan dalam seluruh aspek kehidupan. Terkhusus dalam hal ini, ia mengungkapkan definisi cinta hakiki yang dijelaskan dalam literatur kitab klasik karangan ulama terdahulu.

“Yang namanya cinta adalah hati kalian selalu condong terhadap sesuatu yang diinginkan, begitulah pepatah ulama mengatakan,” ujar yang juga Rais Syuriah MWC NU Kecamatan Pangenan, di halaman Masjid Assa’idiyyah pada Sabtu, 13 September 2025.

Ia menjelaskan bahwa cinta terbagi dua, yakni cinta terhadap hal-hal yang tampak dan yang tidak tampak. Sebagai contoh, seseorang bisa menyukai lagu karena enak didengar, bisa senang terhadap suatu makanan tertentu karena sudah mencicipinya.

“Sampean seneng lagunya Keisya Levronka, kenapa sampean seneng lagunya Lyodra, karena didengarkan lagunya enak, kenapa sampean seneng seblak dan makanan kesukaan lainnya karena enak dirasakan,” ucapnya.

Namun, kata Kiai Imam, ada pula cinta yang bersifat batin, ruhani, dan intelektual. Termasuk cinta kepada para guru, kiai, ulama dan Rasulullah SAW, yang bukan karena rupa, tetapi karena keterikatan hati.

“Tapi juga ada cinta yang berbentuk batiniyah, aqliyah, ruhiyah, yaitu cinta yang susah didefinisikan, karena ia tidak bisa dilihat, dia tidak bisa didengarkan, tapi kemudian hati kita tergerak, tersentuh setiap namanya disebut,” jelasnya.

Menurutnya, hati yang dipenuhi cinta kepada Rasul akan bergetar saat nama beliau disebut, senantiasa mengingat Nabi dalam segala situasi dan kondisi.

“Maka, hati kita bergetar, matanya kita mengeluarkan air mata karena ingin melihatnya. Yaitu cinta kita karena akhlak yang pernah dicontohkan oleh junjungan kita, kekasih kita, nabi kita, kecintaan kita Nabi Muhammad SAW,” tegas Kiai yang berasal dari Rembang, Jawa tengah itu.

Menutup tausiyahnya, Kiai Imam mengajak para santri untuk terus menghidupkan selawat dan mengenang Nabi dalam aktivitas keseharian, agar kelak mudah-mudahan mendapatkan syafaatul ‘udzma Baginda Rasulullah SAW.

“Mari kita rindu yang mengekang, dan senantiasa menyebut nama Nabi Muhammad SAW secara berulang-ulang. Setelah mandi bersholawat, mau mandi bersholawat, semuanya aktivitas kita diwarnai dengan membaca Shalallahu ala Muhammad, shalallahu alayhi wasallam,” imbuhnya.

“Maka kalau seperti itu, in syaa Allah kita akan ikut rombongan Rasulullah shalallahu alayhi wasallam diajak sowan bersama kanjeng Nabi di surganya Allah subhanahu wata’ala,” pungkasnya.

Peringati Tahun Baru Islam, Kiai Hayyi: Ajak Santri Meneladani Semangat Hijrah Nabi

Kiai Hayyi Imam saat menyampaikan mauizah hasanah di Pondok Pesantren Assa’idiyyah Gedongan, Foto: ITC Asd

Asaaidiyyah.id: Pondok Pesantren Assa’idiyyah Gedongan menggelar peringatan Tahun Baru Islam 1447 Hijriah sekaligus menutup rangkaian kegiatan Bonding bagi santri baru, baik putra maupun putri, pada tahun ajaran 2025.

Kegiatan tersebut berlangsung di halaman Masjid Assa’idiyyah dan mengangkat tema, “1447 H: Momentum Membangun Generasi Berakhlak dan Berdaya Saing.” pada Kamis, 24 Juli 2025.

Pengasuh Maskan Al Hikmah sekaligus Ketua Yayasan Surya Negara—Drs. KH Abdul Hayyi Imam, M.Ag—menyampaikan bahwa santri yang cerdas adalah mereka yang mampu membaca dan memahami situasi serta kondisi dengan tepat.

“Contoh santri yang cerdas adalah dia bisa menempatkan diri sebagai santri yang menghormati guru dan orang tua.” ujarnya.

Dalam tausiyahnya, Kiai Hayyi mengulas kembali perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah menuju Madinah, yang sarat dengan hikmah dan keteladanan.

Kiai Hayyi menceritakan, saat berada di Makkah, Rasulullah SAW menghadapi tekanan luar biasa dari kaum Quraisy. Mereka tidak lagi mengakui kenabian Rasulullah dan bahkan memusuhi beliau serta para pengikutnya.

Para sahabat pun menyarankan Nabi untuk hijrah, sebab Makkah saat itu tak lagi kondusif bagi dakwah Islam.

Namun, Rasulullah justru meminta para sahabat bersabar hingga datang pertolongan dari Allah. Setelah itu, turunlah Surat At-Taubah ayat 41 yang memerintahkan jihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa.

Maka, Nabi pun menyeru para sahabat untuk hijrah menuju Madinah—jalan yang diridhai Allah.

Rasulullah menginstruksikan para sahabat agar mendahului beliau ke Yatsrib (nama lama kota Madinah), meski ada yang mempertanyakan mengapa mereka tidak berangkat bersama demi keselamatan.

Nabi menjelaskan bahwa jika ia ikut dalam rombongan, maka dirinya akan menjadi sasaran utama kaum Quraisy.

Menjelang waktu Magrib, para sahabat mulai berangkat. Jarak antara Makkah dan Yatsrib diperkirakan sekitar 64 kilometer.

Sementara itu, Rasulullah meminta Sayyidina Ali untuk tetap tinggal di kamar beliau yang sederhana, tanpa pintu dan jendela, serta hanya beralas tanah.

Dengan penuh keikhlasan, Sayyidina Ali berkata, “Ya Rasulullah, saya akan khidmat dengan ilmu yang saya miliki, dan saya akan menjaga umat semampu saya.” tuturnya.

Di luar rumah, penjagaan musuh telah diperketat. Nabi kemudian berangkat secara diam-diam pada malam hari dan berhenti di Jabal Tsur untuk beristirahat. Jarak dari Makkah ke Jabal Tsur sekitar 50 kilometer.

Sahabat Abu Bakar yang menemani beliau, sempat khawatir dengan kondisi gua tersebut karena kemungkinan adanya binatang buas, termasuk kalajengking.

Setelah memastikan ke dalam, Abu Bakar akhirnya digigit kalajengking. Wajahnya tampak pucat, namun saat ditanya Rasulullah, ia menjawab, “Tidak apa-apa.” ujar sahabat Abu Bakar.

Rasulullah kemudian berkata, “Jangan takut, jangan bersedih. Allah pasti bersama kita.” Beliau meludahi luka sahabat Abu Bakar dan mengusapkannya, hingga seketika sembuh.

Perjalanan pun berlanjut hingga mereka tiba di Madinah. Kedatangan Nabi disambut dengan lantunan syair legendaris Thala‘al Badru ‘Alainā oleh kaum Anshar yang penuh haru dan suka cita.

Mereka heran sekaligus bahagia karena Rasulullah berhasil tiba dengan selamat, membawa risalah Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Langkah awal dakwah di Madinah ditandai dengan pembangunan Masjid Quba.

Dari masjid inilah peradaban Islam berkembang—meliputi aspek pendidikan, ekonomi, hingga politik pemerintahan.

Di akhir ceramahnya, Kiai Hayyi menegaskan bahwa hijrah bukan sekadar berpindah tempat.

Lebih dari itu, hijrah adalah momen penting untuk memperbaiki kualitas hidup dan memperbarui niat dalam menuntut ilmu serta memperjuangkan nilai-nilai kebaikan.

Ditulis ulang oleh: Muhammad Ni’amillah santri Assa’idiyyah Gedongan, Cirebon.

Tiga Komponen Kuatkan Pendidikan Berkualitas, Kata Gus Reza

Gus Reza menyampaikan mauidhoh hasanah kepada para santri, tamu undangan dan wali santri. Foto: YouTube Assa’diyyah Gedongan

Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, HM Al Mahrusiyah DR. KH Reza Ahmad Zahid, Lc mengungkapkan ada tiga komponen agar pendidikan di pesantren menuai keberhasilan. Tiga komponen tersebut terdiri dari guru, wali santri dan santri.

“Para guru harus semangat, meski dengan bisyaroh yang tidak terbilang seberapa. Guru yang mengajar termasuk penting-pentingnya perkara dunia dan agama,” ujar KH Reza dalam mauidhoh hasanah Khotmil Qur’an Asrama Assa’idiyyah pada Ahad, 18 Mei 2025.

Kemudian komponen berikutnya adalah wali santri. Mereka juga harus punya semangat memondokkan anak demi tercapainya kesuksesan anak di pondok.

“Wali santri juga harus semangat, jangan telat wesel anak, nanti di pondok dia akan memikirkan yang tidak-tidak,” kata KH Reza.

Gus Reza, sapaan karibnya, bahwa wali santri perlu mendukung anak ketika berada di pondok. Karena yang menyebabkan anak tidak betah faktor terbesar ada pada orang tua.

“Anak sakit, diomong baik-baik Bu. Itu cobaan, apakah kamu bisa melewati cobaan ini atau tidak,” tambahnya.

Tak hanya itu, Gus Reza menekankan pentingnya ilmu dalam dunia pendidikan. Mengutip dari perkataan Syekh Az Zarnuji bahwa tindakan bodoh karena ia tidak berilmu.

“Di dalam kitab ta’lim muta’allim, ilmu memiliki peran penting dalam menuntaskan kebodohan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Gus Reza menyampaikan komponen yang ketiga, yakni santri. Salah satu komponen yang membuat pendidikan menjadi berhasil adalah santri yang semangat dalam belajar. Di pundak para santrilah letak pendidikan berkualitas semakin kuat.

“Ketika ketiga komponen semangat, saling mendukung satu sama lain, mereka para santri akan sukses menjadi generasi penerus bangsa dan negaranya,” tutupnya.

Tanpa Sanad, Gurunya Setan

Ayah Adit Umar Hamdan sedang sambutan di depan tamu undangan dan wali santri. Foto: YouTube Assa’idiyyah Gedongan.

Pengasuh Pondok Pesantren Assa’idiyyah Gedongan Cirebon, KH Umar Hamdan mengatakan bahwa sanad merupakan salah satu syarat untuk menjadi pengajar Al-Qur’an.

Tanpa sanad, seseorang tidak berhak mengajar, karena bisa jadi gurunya setan.

“Tanyakan pak, bu kepada anaknya, mana sanadnya. Kalau belum ada, maka ia belum bisa mengajarkan Al-Qur’an kepada orang lain,” ujar KH Umar dalam sambutan acara Khotmil Qur’an Asrama Assa’idiyyah Gedongan, pada Ahad, 18 Mei 2025.

KH Umar menegaskan bahwa sanad memiliki peran penting dalam keilmuan. Istilah lain untuk sanad adalah mahar dalam pernikahan.

“Sanad itu istilah lainnya mahar kawin, jangankan memegang, menyentuh saja tidak boleh kalau belum memilikinya,” tegas KH Umar.

Ayah Adit, sapaan karibnya, menyampaikan bahwa sanad di asrama Assa’idiyyah itu mencakup surat-surat pilihan dan Juz Amma yang harus dihafalkan.

“Surat Yasin, Ar Rohman, Al Waqiah, Al Mulk dan Juz Amma itu syarat mutlak Pak, Bu, untuk bisa mendapatkan sanad,” kata Ayah Adit.

Di sisi lain, ayah mengungkapkan santri yang mengaji Al-Qur’an di Pondok Assa’idiyyah Gedongan itu ada tingkatan gurunya masing-masing.

“Biasanya, di sini tingkatan gurunya berbeda-beda. Ada yang ngaji di ustadz atau ustadzah siapa, baru nanti yang terakhir itu biasanya saya, ibunyai, bapa dan istri saya tercinta Lihayati,” kata Ayah Adit sambil berkelakar.

Sementara itu, Ayah Adit melaporkan jumlah peserta khotimin dan khotimat yang pada tahun ini sudah rampung mengajinya.

“Alhamdulillah peserta Khotmil Juz Amma, berjumlah 45 santri putra dan 41 santri putri. Jumlah keseluruhan 85 santri dan peserta Khotmil Qur’an berjumlah  53 santri putra dan 65 santr putri. Jumlah keseluruhan 118 santri,’ ungkap Ayah Adit.

Ayah Adit mengatakan bahwa tahun ini dirinya bersyukur bisa menghadirkan penceramah Gus Reza Ahmad Zahid Lirboyo, yang digadang-gadang merupakan aset NU. Pasalnya, dua tahun ke belakang dirinya selalu gagal dalam mengundang Gus Reza.

“Saya minta doanya kepada semuanya, semoga Gus Reza senantiasa diberikan kesehatan dan keselamatan. Karena akhir-akhir ini lagi nge tren kiai kecelakaan, tabrakan dan sebagainya,” ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ayah Adit menyampaikan bahwa haflah akhirussanah, khotmil juz 30 bil ghoib dan khotmil Qur’an merupakan acara yang digandeng dengan Walimatussafar.

“Pak, Bu, insya Allah minta doanya, Ibu Raudlotul Jannah, Ibu Lihayati, istri saya, dan Muhammad Faiz, tahun sekarang dipanggil oleh Allah SWT., untuk menunaikan ibadah haji. Saya minta doanya, semoga beliau bertiga diberi kesehatan, terutama bisa membimbing jamaah dengan kondisi haji yang tidak keruan,” pungkasnya.

Kombes Polresta Cirebon Tekankan Pentingnya Pendidikan Pesantren

Tampak depan acara “Police Goes to School” (10/05/2025) Foto: ITC Asd.

Assaidiyyah.id: Komandan Besar (Kombes) Polisi Polresta Cirebon menekankan pentingnya hidup di pondok pesantren, menuntut ilmu jauh dari keluarga dan orang tua.

“Jadi, kalo mau lihat fenomena di luaran sana, banyak pemuda seusia kalian, melakukan kriminalitas dan seksualitas di luar nikah,” ujar Kombes Polisi, Sumarni, S.I.K, S.H, M.H dalam keterangan sambutan, bertajuk “Police Goes To School” di halaman asrama Assa’idiyyah Gedongan, pada Jumat, 9 Mei 2025.

Ia menegaskan bahwa Indonesia akan mengalami bonus demografi, yang dinilai sebagai pemberian warganya yang lebih banyak pada usia produktif.

“Tantangan Indonesia ke depan lebih besar. Oleh karena itu, kalian wajib menekuni apa yang sedang dikejar pada hari ini, sehingga kalian dapat menghadapi masa depan dengan baik,” jelasnya.

Di sisi lain, kata dia, kunjungan ini sekaligus melatih para siswa untuk menjadi pelaku ekonomi kreatif, sebagai bagian menyambut Indonesia Emas pada tahun 2045.

“Dengan kedai kopi, Robusta dan Arabica yang kalian terapkan pada saat ini, diharapkan kalian mampu mengendalikan dunia industri dan ekonomi kreatif,” ujar Kombes Polisi asal Kalimantan Barat itu.

Dalam kesempatan tersebut, dirinya menyoroti berbagai hal yang berkaitan dengan aspek keamanan dan keselamatan.

“Di sini kalian sangat beruntung, tidak pegang handphone, karena handphone adalah salah satu penyebab utama tindakan yang tidak dibenarkan,” tegasnya.

Sementara itu, sebagai Kombes Polisi, ia memperkenalkan para asisten di bawah asuhan dan bimbingannya yang bertugas di Polresta Cirebon.

“Nah, adik-adik perlu tahu, mereka-mereka adalah penjaga dan pengayom masyarakat Cirebon, khususnya apa bila banyak terjadi penyimpangan-penyimpangan. Maka, mereka akan turun langsung menanganinya,” tutupnya.

Perempuan Bisa Jadi Apa pun dan Siapa pun, Ibu Nyai Rodhoh: Yang Membedakan dengan Laki-laki hanya Kodrat

Ibu Sumarni disambut ramah oleh Pengasuh KH Abubakar Muhtarom, M.Ag, Foto; ITC Asd

Assaidiyyah.id: Pengasuh pondok pesantren Assa’idiyyah Gedongan, Ibu Nyai Hj Raudlotul Jannah, menyampaikan bahwa santri perempuan harus mampu meraih cita-citanya.

Ia menjelaskan, tidak ada perbedaan antara laki-laki dengan perempuan, semua sama dan setara, memiliki kesempatan untuk bisa sukses di masa yang akan datang.

“Kodrat perempuan itu hanya empat: hamil, menyusui, melahirkan dan menstruasi,” ujar Ketua Yayasan Salafiyah Assa’idiyyah Cirebon itu dalam kunjungan Polresta Cirebon, bertajuk “Police Goes To School” di halaman Asrama Assa’idiyyah Gedongan, pada Jumat, 9 Mei 2025..

Ibu Nyai Rodhoh sapaan karibnya, menyebut santri perempuan bisa menjadi apa pun, termasuk menjadi polisi perempuan yang pada saat ini sedang menjabat sebagai Kombes Kapolresta Cirebon.

“Di depan kalian, ada perempuan-perempuan hebat. jadi, jangan berkecil hati, untuk menjadi apa yang kalian impikan,” tegasnya.

Di sisi lain, Nyai Rodhoh yang juga Ketua Yayasan tersebut menjelaskan bahwa pondok pesantren Gedongan memiliki tiga kultur masyarakat yang patut dihormati.

“Di Gedongan ini ada tiga ekosistem masyarakat, yang pertama, orang mager sari, (masyarakat pesantren), keluarga kiai, dan para santri,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, ibu Nyai Rodhoh mengungkapkan rasa syukur atas silaturahmi yang diadakan Polresta Cirebon.

“Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada ibu Kapolres dan rombongan sudah bersedia mengunjungi pondok pesantren Assa’idiyyah Gedongan,” tuturnya.

Persiapan tempat pertemuan dilakukan pada malam hari, (8/5/2025)

Tak hanya itu, ibu Nyai Rodhoh menitipkan pesan kepada Kapolresta Cirebon agar bisa memberikan dorongan semangat belajar kepada para santri.

“Inilah santri kami, santri yang kotor, sulit diatur, mangga ibu Kapolres, untuk bisa memberikan arahan dan bimbingan kepada santri agar lebih rajin dalam belajar,” pungkasnya.

Peringati Nuzulul Qur’an, Santri Assa’idiyyah Diharapkan Mampu Menjadi Wakil Islam

KH Muhammad Arsyad dalam mengisi Mauizah Hasanah di depan para santri, (16/03/2025) Foto: ITC Asd

Assa’idiyyah.id – Pondok Pesantren Assa’idiyyah menggelar peringatan malam Nuzulul Qur’an bertemakan “Merengkuh Spirit Santri dalam Membaca dan Memahami Al-Qur’an untuk Menggapai Cita-cita di Masa Depan” Pada Ahad, 16 Maret 2025.

Nijar Ikhwan Abyasa salah satu santri SMK kelas XI TBSM yang juga sebagai ketua panitia menyampaikan ungkapan rasa syukur kepada rekan panitia dan para santri atas terselenggaranya acara dengan tertib dan lancar.

Ia juga menyampaikan permohonan maaf jika dalam acara terdapat banyak kekurangan.

“Saya ingin mengatakan dua hal, pertama ucapan terima kasih dan kedua permohonan maaf. Mudah-mudahan acara berikutnya lebih baik dan lebih meriah.”

Dalam kesempatan itu, KH Umar Hamdan selaku pengasuh menegaskan bahwa Nuzulul Qur’an adalah momen di mana Nabi Muhammad pertama kali menerima wahyu dari Malaikat Jibril.

“Nabi Muhammad lari menuju kepada Siti Khadijah, bahwa Nabi minta diselimuti, karena barusan ada sosok yang memberikan wahyu kepada Nabi, sedang Nabi dalam keadaan menggigil kedinginan.” Tegas Kiai Umar Hamdan yang akrab disapa Ayah oleh para santri.

Di sisi lain, Ayah menekankan agar para santri cinta kepada Nabi, keluarga dan cinta kepada Al-Qur’an agar hidup terarah.

“Ajarkan anak kalian untuk cinta kepada Nabi, cinta kepada Ahli Bait Nabi, dan cinta kepada Al-Qur’an.” ujarnya mengutip hadis yang disampaikan kanjeng Nabi.

Sementara itu, KH Muhammad Arsyad sebagai mubaligh di acara tersebut mengungkapkan bahwa Al-Qur’an merupakan mukjizat yang luar biasa. Umat Islam khususnya, di bulan Ramadan ini diajarkan agar melakukan amalan yang diridhoi Allah SWT.

“Semoga kita semua dijadikan oleh Allah minas suadail maqbuulin, dan tidak dijadikan minal asyqiyail mardudin.” jelas Kiai Arsyad yang juga pengasuh asrama Al Muhajirin Pondok Pesantren Gedongan.

“Kita semua dapat diterima amal ibadah puasanya dan dijauhkan dari orang-orang yang celaka dan tertolak amalnya.” ungkap Kiai Arsyad yang akrab disapa Kiai Mamat.

Lebih lanjut, Kiai Mamat mejelaskan pentingnya meraih kebaikan di bulan Ramadan (thayyib) dan menjauhi kejelekan (khobits). Amalan yang sedianya santri laksanakan hanya karena terpaksa, di bulan Ramadan hendaknya diniatkan menghadap kehadirat Allah dengan hati yang ikhlas.

“Dalam surat Asy-Syuara ayat 87-89 kita berharap kelak di hari kiamat agar menghadap Allah dengan hati yang bersih.

{ وَلَا تُخۡزِنِی یَوۡمَ یُبۡعَثُونَ (87) یَوۡمَ لَا یَنفَعُ مَالࣱ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبࣲ سَلِیمࣲ (89) }

“Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan,(yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,

[QS. Asy-Syu’ara: 87-89]

Kiai Mamat menuturkan bahwa setiap santri akan menjadi wakil-wakil Islam di daerahnya, diharapakan mereka bisa menampilkan akhlak dan wajah pesantren dengan baik

“Saya sering ketemu santri di pasar, di toko, ketika mereka ditanya, kamu santri siapa? santri Assai’idiyyah Gedongan kiai. Ternyata dilihat dari tampilannya mereka cantik dan tampan, dalam artian sopan dan santun. Itulah yang dimaksud santri menjadi wakil-wakil Islam, Oleh karena itu, momentum Nuzulul Qur’an mari kita jadikan sebagai pedoman akhlak santri, kalian adalah wakil Islam, semoga kelak kalian menjadi garda terdepan dalam membangun bangsa dan negara melalui wajah Islam ala pesantren.” Tutup Kiai Mamat.

Peringatan Nuzulul Qur’an menjadi momen bahagia bagi para santri. Karena, kegiatan ini menjadi puncak dari seluruh rangkaian kegiatan yang dilaksanakan di pesantren.

Pasca dua minggu santri mengaji pasaran Ramadan dan tadarusan Al-Qur’an di masjid, kemudian pada malam tujuh belas ditutup dengan buka bersama dan peringatan Nuzulul Qur’an.

Pagi harinya, santri melakukan salat sunah taubat, salat tasbih dan salat hajat sebelum perpulangan.

Editor: Muhammad Ni’amillah

Studi Block Wadah Prestasi Siswa, Ini Lokasi yang Dituju

Siswa-siswi sedang menerima pembinaan dari Umi Lihayati, Foto: Media ITC

Assa’idiyyah.id: Pondok Pesantren Assa’idiyyah Gedongan kembali mengadakan kegiatan studi block.

Kegiatan yang rutin diadakan tahunan itu diikuti oleh segenap siswa-siswi MTs, MA Assa’idiyyah Takhassus Al-Qur’an dan SMK Assa’idiyyah Ponpes Gedongan pada Kamis (30/01/2025).

Peserta yang mengikuti studi block terdiri dari kelas 7 MTs, kelas 10 MA/SMK dan segenap pengurus OSIS dari lembaga masing-masing.

Lokasi studi block yang dituju seluruh siswa yakni Museum Linggarjati, Kuningan. Lokasi berikutnya siswa MTs menuju lokasi Waterpark Ciperna dan siswa MA/SMK menuju lokasi Goa Sunyaragi.

Kepala MTs, Umi Lihayati, pihaknya berpesan kepada siswa-siswi yang hendak berangkat studi block agar tetap menjaga etika dan perilaku saat berada di luar.

“Umi titip pesan kepada kalian, tolong jaga nama baik almamater, karena bagaimana pun kalian adalah santri, maka harus mengutamakan akhlak mulia kepada siapa pun.” ujarnya.

Ia menambahkan kegiatan studi block merupakan kegiatan pembelajaran luar kelas yang mengutamakan aspek kebersamaan dalam belajar.

“Nanti kalau sudah di tempat studi block, umi harap selalu bersama dengan kelompok, jangan berjalan sendiri-sendiri.” paparnya menjelaskan pentingnya menjaga kebersamaan saat belajar di luar kelas.

Pelepasan kegiatan studi block diawali dengan doa safar, agar perjalanan dan pelaksanaan berjalan lancar, selamat sampai tujuan.

Sementara itu, siswa yang tidak mengikuti studi block, tetap melaksanakan kegiatan belajar mengajar di sekolah.

 

Isra Mi’raj Mukjizat yang Luar Biasa, Kiai Taufik Sarankan Masyarakat Memperbaiki Salatnya

Kiai Taufik saat menjadi penceramah dalam haflah rojabiyah. Foto: ITC Asd
Kiai Taufik mengisi tausiyah haflah rojabiyah. Foto: ITC Asd

Kiai Taufiqurrahman Yasin salah satu pengasuh di Pondok Pesantren Gedongan menjelaskan bahwa peristiwa Isra Mi’raj beritanya bersumber dari Al-Qur’an.

Hal itu ia sampaikan saat mengisi tausiyah haflah rajabiyah di Masjid Agung Pondok Pesantren Gedongan pada Ahad, 26 Januari 2025.

“Kita mestinya mengerti Isra Mi’raj bukan berasal dari TV, koran dan semacamnya, melainkan asalnya dari Al-Qur’an.” jelasnya.

Kiai Taufik menceritakan bagaimana pentingnya memahami isi Al-Qur’an dari beberapa segi, termasuk mempelajari ilmu Al-Qur’an dan sejarahnya.

Menurut Kiai Taufik, Isra Mi’raj merupakan Peristiwa yang besar dan menakjubkan, beritanya dari Al-Qur’an, modalnya keimanan dan keyakinan.

Sementara itu, dari sisi mata rantai Isra Mi’raj, kata kiai Taufik, apa yang ada di dalam Al-Qur’an sudah pasti benar, Kiai Taufik menilai Al-Qur’an merupakan mu’jizat yang luar biasa karena bisa mengungkapkan sesuatu yang belum terjadi atau pun yang sudah terjadi. 

Kiai Taufik menambahkan bahwa peristiwa Isra Mi’raj memiliki kisah yang jelas dan sudah pasti dapat dipertanggungjawabkan, karena memiliki sumber dari Al-Qur’an.

Kiai Taufik menyebut bahwa keotentikan Isra Mi’raj merujuk kepada salah satu pengertian Khobar dan Sanad menurut perspektif para ulama.

“Khobar tidak bisa diterima kecuali ada sanad, sanad tidak bisa diterima kecuali muttashil dan muttashil tidak bisa diterima kecuali shohih.”

Lebih lanjut kiai Taufik menjelaskan bahwa peristiwa Isra Mi’raj memang tidak dibuat-buat ada dasarnya, kita yakin bahwa itu salah satu mukjizat Nabi.

Dalam acara tersebut, kiai Taufik berharap kepada masyarakat dan santri bahwa peringatan isra mi’raj hendaknya dijadikan pelajaran agar kualitas salatnya semakin baik.

“Peringatan Isra Mi’raj juga merupakan momentum untuk memperbaiki salat. Orang salat itu hatinya harus beres dan bersih alias khusyuk. Salat juga harus yang baik dan benar jangan asal-asalan dalam melaksanakan. Selanjutnya, salat juga harus memperhatikan kesucian pakaian, badan dan tempatnya.” jelasnya.

Sementara itu, salat merupakan rutinitas umat muslim yang spesial, menurut Kiai Taufik bahwa orang salat sangat dihormati keberadaannya.

“Salat itu ibadah yang istimewa, contoh ketika orang baca Al-Qur’an kemudian ada orang salat, maka diperintah untuk melirih suaranya karena ada orang sedang melaksanakan salat. Sampai ada perkataan: Al amru bikhofdzi shout, “perintah untuk merendahkan suara saat ada orang salat.” ujarnya.

Mengakhiri mauizah Kiai Taufik mengajak semua lapisan masyarakat dan para santri agar sama-sama meningkatkan kualitas ibadahnya, terutama bisa membedakan perkara baik dan benar sesuai syariat.

“Setelah itu mari kita berusaha memperbaiki kualitas ibadah kita. Mulai dari menata niat dan membersihkan hati. Karena ada perkara benar tapi tidak baik, ada perkara baik tapi tidak benar.” pungkasnya.

Muhammad Ni'amillah
Santri Assa'idiyyah Gedongan