
Assaidiyyah.id: Pengasuh Pondok Pesantren Assa’idiyyah Gedongan memulai perjalanan kariernya di bidang kedokteran, yakni beliau Dr. dr. Moh Syarofil Anam, M.Si.Med., Sp.A, atau yang akrab disapa dr. Anam, beliau mukim bersama keluarga dan para santri di Kota Atlas, yakni Semarang, Jawa Tengah.
Perjalanan hidup manusia sering kali sulit ditebak. Sesuatu yang awalnya tidak disukai bisa menjadi hal yang paling dicintai. Begitu pula kisah tentang minat yang berawal dari rasa takut, seperti pengalaman dr. Anam.
Awal kariernya dimulai sebagai dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT) di Sintang, Kalimantan Barat. Selama dua tahun bertugas di provinsi berjuluk Seribu Sungai itu, beliau menghadapi banyak tantangan, termasuk menangani pasien anak-anak. Di awal, beliau merasa kurang kompeten dalam menghadapi penyakit anak sehingga kerap ikut menangis saat pasien anak menangis.
Sementara itu, sebagai dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT) di Puskesmas, dr. Anam awalnya berusaha menghindari kasus anak. Namun, tugasnya mengharuskan untuk tetap menangani mereka, terutama bayi dengan imunisasi dan anak penderita TBC. Dari sinilah beliau mulai sering tampil di masyarakat memberikan penyuluhan tentang TBC anak.
Menariknya, kegiatan penyuluhan inilah yang menjadi titik balik kariernya. Ia merasa terpanggil untuk mendalami dunia kesehatan anak dan akhirnya melanjutkan pendidikan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Ilmu Kesehatan Anak di Universitas Diponegoro. Setelah lulus, beliau menjadi dokter dan pengajar di RSUP dr. Kariadi/Fakultas Kedokteran Universitas Dipenogoro serta aktif di Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sejak 2011 hingga sekarang.

Visi dan Misi di IDAI Jawa Tengah
Menurut dr. Anam, dunia kesehatan anak di Indonesia membutuhkan transformasi organisasi agar para dokter spesialis anak dapat menjalankan tugasnya dengan lebih efektif. Ia menekankan bahwa IDAI harus menjadi organisasi yang kuat, menyenangkan, serta mampu memahami kebutuhan anggotanya.
“Visi kita adalah menjadikan IDAI Jawa Tengah sebagai rumah yang menyenangkan bagi seluruh anggota,” ujarnya dikutip pada Selasa, 11 November 2025.
Transformasi yang dimaksud meliputi adaptasi terhadap kemajuan teknologi dan dunia modern, dengan fokus pada pelayanan kesehatan, pengabdian masyarakat, dan tanggung jawab terhadap pasien. Untuk mendukung hal itu, diperlukan pembaruan kompetensi dokter secara terus-menerus, termasuk dalam bidang kedokteran, keprofesian, program pemerintah, teknologi Artificial Intelligence (AI), hingga investasi.

Filosofi Hidup Sang Ketua
Selain sebagai pengajar dan dokter spesialis, dr. Anam dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan kesehatan. Ia sering turun langsung ke masyarakat, sekolah, pesantren, hingga panti asuhan untuk memberikan edukasi dan pelayanan kesehatan anak.
Di sisi lain, sebagai Ketua IDAI Jawa Tengah, beliau juga memfasilitasi kegiatan peningkatan kompetensi dokter anak yang dilaksanakan rutin setiap bulan.
Tentang filosofi hidupnya, dr. Anam mengaku terinspirasi oleh pesan orang tuanya untuk menjadi manusia yang bermanfaat dan tidak menyusahkan orang lain. Beliau juga berpegang pada firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 217:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu.” ungkap dokter yang juga akrab disapa Kang Opi itu.
Bagi dr. Anam, manusia cukup berusaha sebaik mungkin tanpa perlu terlalu meyakini bahwa sesuatu pasti benar atau salah. Yang penting adalah tetap berbuat baik dan tidak menghina atau membenci orang lain.
Tak hanya itu, foto-foto dalam profil ini menampilkan dr. Anam bersama keluarga, saat melayani pasien anak di RS Kariadi Semarang, hingga kegiatan pendakian gunung yang menjadi hobinya. Semua mencerminkan sosok dokter yang rendah hati, aktif, dan berdedikasi untuk dunia kesehatan anak di Jawa Tengah.


