Profil Ketua IDAI Jawa Tengah Periode 2024–2027: Dr. dr. Moh Syarofil Anam, M.Si. Med., Sp.A

Dr. dr. Moh Syarofil Anam, M.Si. Med., Sp.A Foto: Media ITC Asd

Assaidiyyah.id: Pengasuh Pondok Pesantren Assa’idiyyah Gedongan memulai perjalanan kariernya di bidang kedokteran, yakni beliau Dr. dr. Moh Syarofil Anam, M.Si.Med., Sp.A, atau yang akrab disapa dr. Anam, beliau mukim bersama keluarga dan para santri di Kota Atlas, yakni Semarang, Jawa Tengah.

Perjalanan hidup manusia sering kali sulit ditebak. Sesuatu yang awalnya tidak disukai bisa menjadi hal yang paling dicintai. Begitu pula kisah tentang minat yang berawal dari rasa takut, seperti pengalaman dr. Anam.

Awal kariernya dimulai sebagai dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT) di Sintang, Kalimantan Barat. Selama dua tahun bertugas di provinsi berjuluk Seribu Sungai itu, beliau menghadapi banyak tantangan, termasuk menangani pasien anak-anak. Di awal, beliau merasa kurang kompeten dalam menghadapi penyakit anak sehingga kerap ikut menangis saat pasien anak menangis.

Sementara itu, sebagai dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT) di Puskesmas, dr. Anam awalnya berusaha menghindari kasus anak. Namun, tugasnya mengharuskan untuk tetap menangani mereka, terutama bayi dengan imunisasi dan anak penderita TBC. Dari sinilah beliau mulai sering tampil di masyarakat memberikan penyuluhan tentang TBC anak.

Menariknya, kegiatan penyuluhan inilah yang menjadi titik balik kariernya. Ia merasa terpanggil untuk mendalami dunia kesehatan anak dan akhirnya melanjutkan pendidikan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Ilmu Kesehatan Anak di Universitas Diponegoro. Setelah lulus, beliau menjadi dokter dan pengajar di RSUP dr. Kariadi/Fakultas Kedokteran Universitas Dipenogoro serta aktif di Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sejak 2011 hingga sekarang.

Flyer Selamat dan Sukses atas terpilihnya Ketua IDAI Jawa Tengah, Foto: Media ITC Asd

Visi dan Misi di IDAI Jawa Tengah

Menurut dr. Anam, dunia kesehatan anak di Indonesia membutuhkan transformasi organisasi agar para dokter spesialis anak dapat menjalankan tugasnya dengan lebih efektif. Ia menekankan bahwa IDAI harus menjadi organisasi yang kuat, menyenangkan, serta mampu memahami kebutuhan anggotanya.

“Visi kita adalah menjadikan IDAI Jawa Tengah sebagai rumah yang menyenangkan bagi seluruh anggota,” ujarnya dikutip pada Selasa, 11 November 2025.

Transformasi yang dimaksud meliputi adaptasi terhadap kemajuan teknologi dan dunia modern, dengan fokus pada pelayanan kesehatan, pengabdian masyarakat, dan tanggung jawab terhadap pasien. Untuk mendukung hal itu, diperlukan pembaruan kompetensi dokter secara terus-menerus, termasuk dalam bidang kedokteran, keprofesian, program pemerintah, teknologi Artificial Intelligence (AI), hingga investasi.

Foto Bersama Keluarga

Filosofi Hidup Sang Ketua

Selain sebagai pengajar dan dokter spesialis, dr. Anam dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan kesehatan. Ia sering turun langsung ke masyarakat, sekolah, pesantren, hingga panti asuhan untuk memberikan edukasi dan pelayanan kesehatan anak.

Di sisi lain, sebagai Ketua IDAI Jawa Tengah, beliau juga memfasilitasi kegiatan peningkatan kompetensi dokter anak yang dilaksanakan rutin setiap bulan.

Tentang filosofi hidupnya, dr. Anam mengaku terinspirasi oleh pesan orang tuanya untuk menjadi manusia yang bermanfaat dan tidak menyusahkan orang lain. Beliau juga berpegang pada firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 217:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu.” ungkap dokter yang juga akrab disapa Kang Opi itu.

Bagi dr. Anam, manusia cukup berusaha sebaik mungkin tanpa perlu terlalu meyakini bahwa sesuatu pasti benar atau salah. Yang penting adalah tetap berbuat baik dan tidak menghina atau membenci orang lain.

Tak hanya itu, foto-foto dalam profil ini menampilkan dr. Anam bersama keluarga, saat melayani pasien anak di RS Kariadi Semarang, hingga kegiatan pendakian gunung yang menjadi hobinya. Semua mencerminkan sosok dokter yang rendah hati, aktif, dan berdedikasi untuk dunia kesehatan anak di Jawa Tengah.

Melayani pasien di Poliklinik Anak, RS. Kariadi Semarang
Di tengah teh kebun kayu Aro, Sebelum pendakian ke gunung Kerinci 2022. Foto: Media ITC Asd

Meneguhkan Nilai Pancasila, Ribuan Santri Gedongan Ikuti Sosialisasi Ideologi Bersama BPIP

Tampak depan acara, Moderator bersama Narasumber BPIP. Foto: Media Pesantren Gedongan

Assaidiyyah.id: Pondok Pesantren (Ponpes) Gedongan Cirebon menjadi pusat kegiatan sosialisasi pembinaan ideologi Pancasila yang digelar oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Republik Indonesia. Kegiatan ini diikuti ribuan santri, tenaga pendidik, serta tokoh nasional dan daerah yang berkomitmen memperkuat semangat kebangsaan di lingkungan pesantren.

Acara tersebut sekaligus menjadi pembuka rangkaian Haul ke-95 K.H. Muhammad Said, pendiri Ponpes Gedongan. Untuk memaknai momentum itu, pihak pesantren menggandeng BPIP menghadirkan dua narasumber utama: H. Agus Moh. Najib, Direktur Sosialisasi dan Komunikasi BPIP, serta H. Muhammad Adib Abdussomad, Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Kemenag RI.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh H. Agus Moh. Najib, dan turut dihadiri oleh sesepuh pesantren, K.H. Abubakar Muhtarom, serta jajaran pengasuh Ponpes Gedongan.

Pesantren sebagai Penjaga Ideologi Bangsa

Perwakilan Ponpes Gedongan, K.H. Abdul Hayyi Imam, menegaskan bahwa pesantren memiliki peran penting dalam menjaga ideologi negara. Menurutnya, kegiatan sosialisasi ini harus berdampak lebih dari sekadar menambah wawasan.

“Mohon kira-kira pembinaan ideologi Pancasila tidak hanya sekadar transfer of knowledge tapi mudah-mudahan bisa diantarkan sehingga senantiasa mampu diinternalisasikan dalam dirinya para santri,” ujarnya.

K.H. Abdul Hayyi menekankan pentingnya pembinaan karakter santri agar mampu menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Warisan Ulama dan Tantangan Global

Direktur Sosialisasi dan Komunikasi BPIP, Agus Najib, dalam paparannya mengingatkan bahwa sejak masa perjuangan, ulama dan santri telah menempatkan pesantren sebagai pusat perlawanan terhadap penjajahan. Kini, katanya, peran santri harus berkembang menjadi bagian strategis dalam pembangunan bangsa.

“Santri adalah penerus semangat ulama yang berjuang menjaga Indonesia. Sekarang saatnya mereka mengambil peran aktif di bidang kebangsaan dan kebudayaan,” ujarnya.

Sementara itu, H. Muhammad Adib Abdussomad menegaskan bahwa komitmen pesantren terhadap Pancasila sudah final atau tahsilul hasil. Tantangan ke depan, kata dia, adalah bagaimana pesantren dan santrinya dapat berkontribusi secara global.

“Tantangan kita saat ini adalah bagaimana menjadikan pesantren kita, santri kita, bisa lebih berkontribusi tidak hanya levelnya nasional tetapi internasional,” tegas Adib.

Selain dua narasumber utama, sesi diskusi juga menghadirkan K.H. Taufiqurrahman Yasin, Pengasuh Ponpes Gedongan, dan Andy Apriyanto dari BPIP yang membahas strategi aktualisasi nilai-nilai Pancasila di lembaga pendidikan Islam.

Sinergi Pesantren dan BPIP

Kolaborasi antara BPIP dan Ponpes Gedongan ini menjadi bukti nyata peran pesantren dalam memperkuat ideologi Pancasila di tengah generasi muda. Dengan keterlibatan ribuan santri, kegiatan tersebut diharapkan melahirkan kader bangsa yang tidak hanya religius, tetapi juga nasionalis dan berwawasan kebinekaan.

Rangkaian haul dan sosialisasi ideologi di Pesantren Gedongan meneguhkan kembali posisi pesantren sebagai benteng moral dan penjaga nilai-nilai Pancasila di era modern.