
Asaaidiyyah.id: Pondok Pesantren Assa’idiyyah Gedongan menggelar peringatan Tahun Baru Islam 1447 Hijriah sekaligus menutup rangkaian kegiatan Bonding bagi santri baru, baik putra maupun putri, pada tahun ajaran 2025.
Kegiatan tersebut berlangsung di halaman Masjid Assa’idiyyah dan mengangkat tema, “1447 H: Momentum Membangun Generasi Berakhlak dan Berdaya Saing.” pada Kamis, 24 Juli 2025.
Pengasuh Maskan Al Hikmah sekaligus Ketua Yayasan Surya Negara—Drs. KH Abdul Hayyi Imam, M.Ag—menyampaikan bahwa santri yang cerdas adalah mereka yang mampu membaca dan memahami situasi serta kondisi dengan tepat.
“Contoh santri yang cerdas adalah dia bisa menempatkan diri sebagai santri yang menghormati guru dan orang tua.” ujarnya.
Dalam tausiyahnya, Kiai Hayyi mengulas kembali perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah menuju Madinah, yang sarat dengan hikmah dan keteladanan.
Kiai Hayyi menceritakan, saat berada di Makkah, Rasulullah SAW menghadapi tekanan luar biasa dari kaum Quraisy. Mereka tidak lagi mengakui kenabian Rasulullah dan bahkan memusuhi beliau serta para pengikutnya.
Para sahabat pun menyarankan Nabi untuk hijrah, sebab Makkah saat itu tak lagi kondusif bagi dakwah Islam.
Namun, Rasulullah justru meminta para sahabat bersabar hingga datang pertolongan dari Allah. Setelah itu, turunlah Surat At-Taubah ayat 41 yang memerintahkan jihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa.
Maka, Nabi pun menyeru para sahabat untuk hijrah menuju Madinah—jalan yang diridhai Allah.
Rasulullah menginstruksikan para sahabat agar mendahului beliau ke Yatsrib (nama lama kota Madinah), meski ada yang mempertanyakan mengapa mereka tidak berangkat bersama demi keselamatan.
Nabi menjelaskan bahwa jika ia ikut dalam rombongan, maka dirinya akan menjadi sasaran utama kaum Quraisy.
Menjelang waktu Magrib, para sahabat mulai berangkat. Jarak antara Makkah dan Yatsrib diperkirakan sekitar 64 kilometer.
Sementara itu, Rasulullah meminta Sayyidina Ali untuk tetap tinggal di kamar beliau yang sederhana, tanpa pintu dan jendela, serta hanya beralas tanah.
Dengan penuh keikhlasan, Sayyidina Ali berkata, “Ya Rasulullah, saya akan khidmat dengan ilmu yang saya miliki, dan saya akan menjaga umat semampu saya.” tuturnya.
Di luar rumah, penjagaan musuh telah diperketat. Nabi kemudian berangkat secara diam-diam pada malam hari dan berhenti di Jabal Tsur untuk beristirahat. Jarak dari Makkah ke Jabal Tsur sekitar 50 kilometer.
Sahabat Abu Bakar yang menemani beliau, sempat khawatir dengan kondisi gua tersebut karena kemungkinan adanya binatang buas, termasuk kalajengking.
Setelah memastikan ke dalam, Abu Bakar akhirnya digigit kalajengking. Wajahnya tampak pucat, namun saat ditanya Rasulullah, ia menjawab, “Tidak apa-apa.” ujar sahabat Abu Bakar.
Rasulullah kemudian berkata, “Jangan takut, jangan bersedih. Allah pasti bersama kita.” Beliau meludahi luka sahabat Abu Bakar dan mengusapkannya, hingga seketika sembuh.
Perjalanan pun berlanjut hingga mereka tiba di Madinah. Kedatangan Nabi disambut dengan lantunan syair legendaris Thala‘al Badru ‘Alainā oleh kaum Anshar yang penuh haru dan suka cita.
Mereka heran sekaligus bahagia karena Rasulullah berhasil tiba dengan selamat, membawa risalah Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Langkah awal dakwah di Madinah ditandai dengan pembangunan Masjid Quba.
Dari masjid inilah peradaban Islam berkembang—meliputi aspek pendidikan, ekonomi, hingga politik pemerintahan.
Di akhir ceramahnya, Kiai Hayyi menegaskan bahwa hijrah bukan sekadar berpindah tempat.
Lebih dari itu, hijrah adalah momen penting untuk memperbaiki kualitas hidup dan memperbarui niat dalam menuntut ilmu serta memperjuangkan nilai-nilai kebaikan.
Ditulis ulang oleh: Muhammad Ni’amillah santri Assa’idiyyah Gedongan, Cirebon.
