Studi Block Wadah Prestasi Siswa, Ini Lokasi yang Dituju

Siswa-siswi sedang menerima pembinaan dari Umi Lihayati, Foto: Media ITC

Assa’idiyyah.id: Pondok Pesantren Assa’idiyyah Gedongan kembali mengadakan kegiatan studi block.

Kegiatan yang rutin diadakan tahunan itu diikuti oleh segenap siswa-siswi MTs, MA Assa’idiyyah Takhassus Al-Qur’an dan SMK Assa’idiyyah Ponpes Gedongan pada Kamis (30/01/2025).

Peserta yang mengikuti studi block terdiri dari kelas 7 MTs, kelas 10 MA/SMK dan segenap pengurus OSIS dari lembaga masing-masing.

Lokasi studi block yang dituju seluruh siswa yakni Museum Linggarjati, Kuningan. Lokasi berikutnya siswa MTs menuju lokasi Waterpark Ciperna dan siswa MA/SMK menuju lokasi Goa Sunyaragi.

Kepala MTs, Umi Lihayati, pihaknya berpesan kepada siswa-siswi yang hendak berangkat studi block agar tetap menjaga etika dan perilaku saat berada di luar.

“Umi titip pesan kepada kalian, tolong jaga nama baik almamater, karena bagaimana pun kalian adalah santri, maka harus mengutamakan akhlak mulia kepada siapa pun.” ujarnya.

Ia menambahkan kegiatan studi block merupakan kegiatan pembelajaran luar kelas yang mengutamakan aspek kebersamaan dalam belajar.

“Nanti kalau sudah di tempat studi block, umi harap selalu bersama dengan kelompok, jangan berjalan sendiri-sendiri.” paparnya menjelaskan pentingnya menjaga kebersamaan saat belajar di luar kelas.

Pelepasan kegiatan studi block diawali dengan doa safar, agar perjalanan dan pelaksanaan berjalan lancar, selamat sampai tujuan.

Sementara itu, siswa yang tidak mengikuti studi block, tetap melaksanakan kegiatan belajar mengajar di sekolah.

 

Isra Mi’raj Mukjizat yang Luar Biasa, Kiai Taufik Sarankan Masyarakat Memperbaiki Salatnya





Facebook


Youtube


Whatsapp


Instagram


Tiktok

Kiai Taufik saat menjadi penceramah dalam haflah rojabiyah. Foto: ITC Asd
Kiai Taufik mengisi tausiyah haflah rojabiyah. Foto: ITC Asd

Kiai Taufiqurrahman Yasin salah satu pengasuh di Pondok Pesantren Gedongan menjelaskan bahwa peristiwa Isra Mi’raj beritanya bersumber dari Al-Qur’an.

Hal itu ia sampaikan saat mengisi tausiyah haflah rajabiyah di Masjid Agung Pondok Pesantren Gedongan pada Ahad, 26 Januari 2025.

“Kita mestinya mengerti Isra Mi’raj bukan berasal dari TV, koran dan semacamnya, melainkan asalnya dari Al-Qur’an.” jelasnya.

Kiai Taufik menceritakan bagaimana pentingnya memahami isi Al-Qur’an dari beberapa segi, termasuk mempelajari ilmu Al-Qur’an dan sejarahnya.

Menurut Kiai Taufik, Isra Mi’raj merupakan Peristiwa yang besar dan menakjubkan, beritanya dari Al-Qur’an, modalnya keimanan dan keyakinan.

Sementara itu, dari sisi mata rantai Isra Mi’raj, kata kiai Taufik, apa yang ada di dalam Al-Qur’an sudah pasti benar, Kiai Taufik menilai Al-Qur’an merupakan mu’jizat yang luar biasa karena bisa mengungkapkan sesuatu yang belum terjadi atau pun yang sudah terjadi. 

Kiai Taufik menambahkan bahwa peristiwa Isra Mi’raj memiliki kisah yang jelas dan sudah pasti dapat dipertanggungjawabkan, karena memiliki sumber dari Al-Qur’an.

Kiai Taufik menyebut bahwa keotentikan Isra Mi’raj merujuk kepada salah satu pengertian Khobar dan Sanad menurut perspektif para ulama.

“Khobar tidak bisa diterima kecuali ada sanad, sanad tidak bisa diterima kecuali muttashil dan muttashil tidak bisa diterima kecuali shohih.”

Lebih lanjut kiai Taufik menjelaskan bahwa peristiwa Isra Mi’raj memang tidak dibuat-buat ada dasarnya, kita yakin bahwa itu salah satu mukjizat Nabi.

Dalam acara tersebut, kiai Taufik berharap kepada masyarakat dan santri bahwa peringatan isra mi’raj hendaknya dijadikan pelajaran agar kualitas salatnya semakin baik.

“Peringatan Isra Mi’raj juga merupakan momentum untuk memperbaiki salat. Orang salat itu hatinya harus beres dan bersih alias khusyuk. Salat juga harus yang baik dan benar jangan asal-asalan dalam melaksanakan. Selanjutnya, salat juga harus memperhatikan kesucian pakaian, badan dan tempatnya.” jelasnya.

Sementara itu, salat merupakan rutinitas umat muslim yang spesial, menurut Kiai Taufik bahwa orang salat sangat dihormati keberadaannya.

“Salat itu ibadah yang istimewa, contoh ketika orang baca Al-Qur’an kemudian ada orang salat, maka diperintah untuk melirih suaranya karena ada orang sedang melaksanakan salat. Sampai ada perkataan: Al amru bikhofdzi shout, “perintah untuk merendahkan suara saat ada orang salat.” ujarnya.

Mengakhiri mauizah Kiai Taufik mengajak semua lapisan masyarakat dan para santri agar sama-sama meningkatkan kualitas ibadahnya, terutama bisa membedakan perkara baik dan benar sesuai syariat.

“Setelah itu mari kita berusaha memperbaiki kualitas ibadah kita. Mulai dari menata niat dan membersihkan hati. Karena ada perkara benar tapi tidak baik, ada perkara baik tapi tidak benar.” pungkasnya.


Muhammad Ni’amillah
Santri Assa’idiyyah Gedongan

Tekankan Pentingnya Ibadah, Ustaz Yakub: Santri Harus Pandai Melawan Godaan Setan

Santri sedang mendengarkan pembinaan dari Ustaz Yakub Iskandar selepas wiridan jama’ah magrib. (Dok. Assa’idiyyah Gedongan)

Assaidiyyah.id – Ustaz Yakub Iskandar menekankan pentingnya ibadah, khususnya terkait salat lima waktu. Ia mengatakan bahwa santri harus bisa melawan setan yang setiap waktu menggoda.

“Setan memang tugasnya mengganggu manusia, terutama di waktu-waktu ibadah, kita sebagai santri harus bisa melawannya.” kata Ustaz Yakub yang merupakan dewan asatiz di Pondok Pesantren Assa’idiyyah Gedongan, dikutip pada Senin, (20/01/2025).

Ia menambahkan bahwa ibadah salat memang ibadah yang berat dilakukan, terkhusus di waktu subuh yang umumnya manusia masih nyenyak tidur.

“Apalagi kita tahu, salat yang paling berat itu salat subuh, waktu salat yang kebanyakan orang sedang terlelap dalam tidur.” ujar Ustaz Yakub.

Waktu-waktu salat memang krusial bagi setiap santri, karena ibadah di pesantren notabenenya dilakukan secara berjama’ah termasuk dalam hal ini ibadah salat.

Ustaz Yakub mengharapkan agar para santri rajin dalam ibadah, ngaji dan kegiatan bermanfaat lainnya yang dapat menunjang kesuksesan di masa mendatang.

Di sisi lain, pembinaan setelah wiridan jama’ah magrib bertujuan untuk meningkatkan semangat belajar dan ibadah para santri.

Pentingnya ibadah dalam Islam menjadi tolok ukur utama menentukan sukses tidaknya santri dalam belajar dan mengaji di pesantren.

Santri Putri Ponpes Assa’idiyyah Gedongan Raih Medali Emas di Olimpiade Nasional

Santri Putri Assa’idiyyah Gedongan, Cirebon Raih Medali Emas (Foto: Instagram Assa’idiyyah Gedongan)

 

Assaidiyyah.id — Amilatuz Zahra, santri putri Pondok Pesantren Assa’idiyyah Gedongan, Kabupaten Cirebon dan siswi MA Assa’idiyyah Takhasus Al-Qur’an, berhasil mencetak prestasi dalam ajang Olimpiade Sains Pelajar Bung Tomo Brainiac Olympiad.

Kompetisi ini digelar secara daring menggunakan sistem CBT pada Ahad, 29 Desember 2024, dengan tujuan mendorong kemajuan pendidikan pelajar di Indonesia.

Menurut penyelenggara, Olimpiade ini bertujuan menciptakan peluang tanpa batas bagi para pelajar untuk mengejar keunggulan dalam pengetahuan dan teknologi.

Kegiatan ini dirancang untuk mendorong minat pelajar pada ilmu pengetahuan dan teknologi melalui kompetisi yang memotivasi, mendukung peningkatan kualitas pendidikan, serta mengidentifikasi bakat-bakat unggul di seluruh negeri.

Amilatuz Zahra, yang berhasil mengukir prestasi, mengungkapkan kebahagiaannya setelah memenangkan kompetisi tersebut.

“Perasaan saya setelah memenangkan olimpiade ini adalah bahwa tidak ada yang mustahil untuk mencapai keinginan jika kita mau berusaha,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi penyelenggara yang telah memberikan peluang berharga bagi pelajar Indonesia.

“Kesan saya sangat berterima kasih kepada para direktur Olimpiade Sains Pelajar yang sangat membantu saya untuk meningkatkan pengetahuan dan kreativitas setelah mengikuti olimpiade ini. Pesan saya, semoga kegiatan seperti ini bermanfaat bagi seluruh pelajar Indonesia yang ingin meningkatkan pengetahuan mereka,” ucapnya.

Olimpiade ini juga menanamkan nilai penting bagi pelajar untuk berpikir kreatif, menciptakan solusi inovatif, dan memecahkan masalah ilmiah yang kompleks.

Selain itu, kegiatan ini mendukung pengembangan bakat pelajar Indonesia agar dapat bersaing secara nasional dan menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.

Prestasi Amilatuz Zahra menjadi kebanggaan bagi Pondok Pesantren Assa’idiyyah Gedongan, yang terus berkomitmen mendidik generasi penerus bangsa agar tidak hanya unggul di bidang agama, tetapi juga di dunia akademik.

Kegiatan seperti ini diharapkan dapat memotivasi lebih banyak pelajar untuk meraih prestasi di tingkat nasional maupun internasional

Pewarta: Khumaedi NZ – Alumni Assa’idiyyah Gedongan

Editor: Muhammad Ni’amillah

Muhammad Alfayruz Raih Medali Perunggu di Olimpiade Sains Al Azhar

Muhammad Alfayruz Putra Pengasuh Assa’idiyyah Gedongan, Torehkan Prestasi Olimpiade Sains (Foto: Dok. Assa’idiyyah Gedongan)

Assaidiyyah.id — Pondok Pesantren Assa’idiyyah Gedongan, Cirebon mendapatkan kabar gembira dari Ananda Moh. Alfayruz Zabadi, siswa SD Islam Al Azhar 29 Semarang putra pengasuh Pondok Pesantren Assa’idiyyah berhasil meraih medali perunggu dalam ajang Olimpiade Sains Al Azhar (OSA) Matematika XVII tingkat nasional, pada Sabtu, (18/01/25).

Ajang bergengsi yang diselenggarakan oleh Yayasan Pendidikan Al Azhar se-Indonesia ini bertujuan mengasah kemampuan akademik siswa sekaligus menanamkan nilai-nilai fastabiqul khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan.

Babak penyisihan dilaksanakan secara daring pada 11 Januari 2025 di sekolah masing-masing, sementara babak final digelar pada 18 Januari 2025 di Al Azhar 01 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Ibunda Alfayruz, Hj. Uswatun Hasanah, M.Si., yang juga istri dari Dr. dr. H. Moh. Syarofil Anam, M.Si., Med, Sp.A., pengasuh Ponpes Assa’idiyyah Gedongan, menyampaikan kebahagiaannya atas pencapaian tersebut.

“Senang sekali, karena ananda sudah berani berkompetisi, mengasah kemampuannya di bidang akademik. Penghargaan dan hadiah adalah bonus, tapi yang terpenting adalah ilmu dan pengalaman yang telah didapatkan ananda,” ungkapnya dengan penuh rasa syukur.

Lebih lanjut, Hj. Uswatun Hasanah juga berpesan agar Alfayruz terus rendah hati dan memanfaatkan ilmu yang diperolehnya untuk masa depan.

“Alhamdulillah bangga sekali, semoga ini menjadi langkah awal untuk kesuksesan ananda ke depan,” tambahnya.

Prestasi Alfayruz sekaligus mengharumkan nama Pondok Pesantren Assa’idiyyah Gedongan, Cirebon di kancah nasional. Keikutsertaan dan keberhasilannya dalam Olimpiade Sains Al Azhar ini menjadi motivasi bagi para santri dan siswa lainnya untuk terus berprestasi dan menjunjung nilai-nilai keislaman.

Dengan capaian ini, Alfayruz membuktikan bahwa santri juga mampu bersaing di bidang akademik tingkat nasional, membawa semangat baru bagi pendidikan pesantren yang tidak hanya berfokus pada ilmu agama tetapi juga prestasi akademik di berbagai bidang.

Di sisi lain, Pengasuh Pondok Pesantren Assa’idiyyah Gedongan, Cirebon. Kiai Abu Bakar dan Ibu Nyai Raudlotul Jannah ikut menghadiri acara pada saat penerimaan medali perunggu Olimpiade Sains Al Azhar pada Sabtu, 18 Januari 2025.

Hadiri Istighosah Ahad Legi, Pengasuh: Momentum Mendekatkan Diri kepada Allah


Facebook


Youtube


Instagram


Whatsapp


Tiktok


Linkedin

Assa’idiyyah.id – Pondok Pesantren Assa’idiyyah Gedongan, Cirebon mengadakan istighasah yang dilaksanakan setiap hari Sabtu, 18 Januari 2025. Kegiatan ini rutin dilaksanakan bulanan setiap malam ahad legi.

Pengasuh Pondok Pesantren Assa’idiyyah, KH. Umar Hamdan, menjelaskan bahwa momen itu dipilih karena merupakan hari istimewa dalam penanggalan jawa, dan sering dikaitkan hari yang membawa energi positif.

Kiai Umar juga menegaskan, kegiatan ini merupakan cara untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt, mensyukuri nikmat yang diberikan-Nya, serta momen untuk berdoa agar dihilangkan dan terlepas dari bala bencana.

Kegiatan diisi dengan melalui rangkaian acara seperti, shalat taubat, tasbih dan hajat.

Acara ini juga dihadiri Para alumni dan walisantri dari berbagai daerah.

Kiai Umar menyampaikan harapannya agar seluruh santri tetap bersyukur, dan merasa cukup dengan keadaan apa pun.

“Dengan istighasah kita lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt, supaya dimudahkan permintaan kita dan selalu bersyukur atas nikmat-Nya,” jelas Kiai Umar, dikutip pada Ahad, 19 Januari 2025.

Salah seorang alumni, Mansyur, juga mengungkapkan bahwa kegiatan ini sangat bermanfa’at dalam kehidupan sehari-hari agar lebih baik lagi kedepannya.

“Semoga kita semakin baik lagi setelah melakukan kegiatan ini,” ujar Mansyur.

“Dengan istighasah kita lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt, supaya dimudahkan permintaan kita dan selalu bersyukur atas nikmat-Nya,”

KH. Umar Hamdan
Pengasuh Ponpes Assa’idiyyah
0
Jumlah Santri

Hikmah Di Balik Adanya Asyhurul Hurum atau Empat Bulan Mulia Dalam Islam

Nama-nama bulan Hijriyah dalam Islam/Foto: MGN

Seperti yang telah jamak diketahui, Allah swt telah menghiasi dua belas bulan dalam satu tahun dengan adanya asyhurul hurum atau bulan-bulan yang dimuliakan, yaitu bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab yang memiliki keistimewaan tersendiri. Allah berfirman dalam surat At-Taubah ayat 36:

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةًۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ ۝٣٦

Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauh Mahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu), dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah: 36)

Selain itu, saat haji wada, Nabi Muhammad dalam khutbahnya juga bersabda:

إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Artinya: “Sesungguhnya waktu telah berputar sebagaimana mestinya, hal itu ditetapkan pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Dalam setahun ada dua belas bulan, diantaranya ada empat bulan yang mulia. Tiga darinya berturut-turut, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab yang biasa diagungkan Bani Mudlar yaitu antara Jumadil Tsani dan Sya’ban.” (HR. Bukhari)

Keutamaan Bulan Rajab dalam Al-Qur’an Syekh Amin Al-Kurdi (w. 1332 H/1914 M) dalam kitabnya yang berjudul Dhau’us Siraj fi Fadhli Rajab wa Qishatil Mi’raj menyatakan bahwa dalam hadits tersebut, Nabi Muhammad SAW memberikan isyarat bahwa sejak Allah menciptakan langit dan bumi, malam dan siang, matahari, bulan, serta bintang, Allah juga telah menentukan kedua belas bulan berdasarkan hitungan hilal. Hal ini menunjukkan bahwa dalam syariat, perhitungan tahun tidak didasarkan pada peredaran dan perpindahan matahari, melainkan pada peredaran bulan dan terbitnya hilal.

Adapun maksud Nabi Saw mengatakan demikian, lanjut Syekh Amin, adalah untuk menghapus perbuatan masyarakat Jahiliah yang pada waktu itu seringkali mengakhirkan kemuliaan bulan-bulan haram (asyhurul hurum) dan memindahkannya ke bulan-bulan lainnya. Perbuatan mereka ini dikenal dengan istilah an-nasi’.

Jika datang bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, ​​​​​​Muharram, dan Rajab), dan kebetulan mereka sedang melakukan peperangan, maka mereka dengan beraninya menghalalkan peperangan mereka, dan menganggap haram pada bulan lainnya. Lebih parahnya lagi, mereka juga menentang keistimewaan bulan-bulan haram (asyhurul hurum) dan hanya menganggap itu semua hanya sekadar hitungan belaka.

Misalnya, ketika mereka kebetulan sedang berperang pada bulan Muharram, maka mereka menganggap hal itu halal dan hukum haram perang mereka akhirkan dan pindahkan pada bulan berikutnya, yakni bulan Shafar. Begitu seterusnya sampai berputarlah bulan-bulan tersebut selama setahun.

Dari hadits di atas, Nabi Muhammad saw ingin memberitahu bahwa waktu telah berputar sebagaimana mestinya, hal itu ditetapkan pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Selain itu, Nabi juga memerintahkan agar menjaga waktu agar tidak diganti-ganti di kemudian hari. (Syekh Amin Al-Kurdi, Dhau’us Siraj fi Fadhli Rajab wa Qishatil Mi’raj, [Mesir: Mathba’ah As-Sa’adah, tt], hal. 11-12)

Hikmah Asyhurul Hurum​​​​​​​

Lantas, mengapa Allah memilih empat bulan tersebut (Dzulqa’dah, ​​​​​​​Dzulhijjah, ​​​​​​​Muharram, dan Rajab) sebagai bulan-bulan mulia (asyhurul hurum)? Hikmah apa yang ada di balik pemilihan empat bulan tersebut?

Syekh Amin Al-Kurdi mengutip pendapat Ka’ab Al-Ahbar, alasan pemilihan keempat bulan tersebut sebagai bulan haram adalah karena kalau bulan Dzulqa’dah itu adalah bulan di mana orang-orang yang berhaji mulai melakukan perjalanan ke Tanah Suci, sedangkan kalau bulan Dzulhijjah karena orang-orang yang berhaji sedang melaksanakan kewajibannya di bulan itu. Adapun bulan Muharram karena orang-orang yang berhaji mulai pulang ke tanah air masing-masing.

Sehingga, dipilihnya bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram sebagai bulan-bulan mulia (asyhurul hurum) adalah agar para jamaah haji merasa aman mulai dari melakukan perjalanan ke tanah suci sampai pulang ke tanah air masing-masing.

Adapun alasan dipilihnya bulan Rajab sebagai bagian dari asyhurul hurum adalah karena biasanya orang-orang yang domisilinya dengan dengan Makkah melaksanakan umrah paruh tahun pada bulan Rajab tersebut.

Dari paparan di atas, dapat kita simpulkan bahwa alasan dari pemilihan empat bulan (Dzulqa’dah, ​​​​​​​Dzulhijjah, ​​​​​​​Muharram, dan Rajab) sebagai bulan-bulan yang dimuliakan (asyhurul hurum) adalah untuk memberikan rasa aman dan tentram bagi orang-orang yang akan beribadah haji dan umrah pada bulan-bulan tersebut.

Jaminan keamanan dalam beribadah ini tentunya sangat penting sekali, mengingat seseorang tidak akan bisa melaksanakan ibadah dengan maksimal kecuali dalam keadaan aman dan tentram dari ancaman musuh dan sebagainya.

Oleh: Muhammad Ryan Romadhon, Alumni Ma’had Aly Al-Iman, Bulus, Purworejo, Jawa Tengah.

Editor: Muhammad Ni’amillah

Sumber: https://islam.nu.or.id/hikmah/hikmah-adanya-asyhurul-hurum-atau-empat-bulan-mulia-dalam-islam-GfSod

#bulanmulia #hijriyah #keislaman

Kopdarwil IV AISNU Jawa Barat: Siapkan Santri Jadi Pelopor Pembangunan Berkelanjutan

Instagram/Desain Grafis: Assa’idiyyah Gedongan

Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat – Sabtu, 11 Januari 2025, menjadi hari yang istimewa bagi para santri dari seluruh pesantren di Jawa Barat. Arus Informasi Santri Nusantara (AISNU) Jawa Barat menggelar acara Kopi Darat Wilayah (Kopdarwil) IV dengan tema “Jabar Emas Butuh Santri Cerdas”.

Sekitar 500 pesantren dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat serta berbagai tokoh penting dari pemerintah dan lembaga terkait turut menghadiri acara tersebut. Kopdarwil IV bertujuan untuk memperkuat peran santri dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di Jawa Barat.

Selain sebagai ajang konsolidasi dan pelantikan pengurus wilayah serta koordinator daerah AIS Jawa Barat, acara ini juga membahas isu-isu strategis seperti judi online, perlindungan lingkungan, serta kekerasan dan bullying di pesantren. AIS Jawa Barat meluncurkan tiga program unggulan, yaitu:

1. Satgas Sarungan (Santri Anti Kekerasan dan Perundungan): Program pencegahan dan penanganan kekerasan serta bullying di pesantren.
2. Sapidol (Santri Perangi Judol/Judi Online): Gerakan edukasi untuk mengatasi bahaya judi online.
3. Pesangreen (Pesantren Green): Inisiatif lingkungan berbasis pesantren untuk mendorong pengelolaan sampah dan penghijauan.

Ketua AIS Jawa Barat, Muhammad Najmi, menekankan pentingnya peran santri dalam menghadapi tantangan sosial dan lingkungan. “Santri adalah pelopor solusi. Melalui program Satgas Sarungan, Sapidol, dan Pesangreen, kami ingin menunjukkan bahwa santri mampu menjadi garda terdepan dalam membangun Jabar Emas,” ujar Najmi.

Dengan semangat optimisme, AIS Jawa Barat yakin santri mampu berkontribusi nyata dalam menciptakan masyarakat yang lebih adil, sejahtera, dan peduli lingkungan.

Acara ini tidak hanya menjadi momen untuk berbagi ide dan strategi, tetapi juga sebagai inspirasi bagi santri untuk terus berinovasi dan berkontribusi dalam pembangunan daerah.

Beberapa teman santri dari perwakilan asrama Pondok Pesantren Gedongan turut berpartisipasi dan mengikuti pengukuhan pengurus wilayah dan 27 pengurus daerah AISNU Jabar, periode 2025-2026.

 

10 Cara Memuliakan Orang Tua dalam Islam

ilustrasi/photo/doaorangtua

Assa’idiyyah.id – Sebenarnya ada banyak cara dalam berbakti dan memuliakan orang tua, karena hal tersebut merupakan ajaran yang sangat dianjurkan bagi setiap muslim. Orang tua selain orang yang berpengaruh bagi kehidupan anaknya, mereka juga menjadi wasilah bagi anak-anaknya hidup sukses di dunia maupun di akhirat.

Saking utamanya amalan, Allah memerintahkan berbakti atau memuliakan orang tua dalam surat Al-Isra ayat 23, yang berbunyi:

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا

Artinya: “Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”

Di antara bentuk bakti kita kepada orang tua ketika mereka masih hidup adalah dengan mendoakan mereka, berbuat baik kepada keduanya, menaati perintah mereka, melayani keperluan mereka, mengakui keutamaan mereka, mencukupi kebutuhan mereka, duduk bersama mereka, merendahkan suara di hadapan mereka, menjawab panggilan mereka, dan mendengarkan dengan seksama jika mereka berbicara kepada kita.

Semua yang kita lakukan sungguh cara terbaik mendekati Allah SWT, karena amalan yang memang paling dicintai oleh Allah adalah memuliakan orang tua.

10 Cara Memuliakan Orang Tua

Berikut 10 cara memuliakan orang tua, dikutip dari beberapa sumber, yakni:

1. Bertutur Kata dengan Baik

Semua anak pasti sudah berkomunikasi dengan orang tuanya. Sayangnya, terkadang secara tidak sadar seorang anak emosi saat berbicara dan bertutur kata. Hal itu harus dihindari, bahkan berkata “Ah,” kepada orang tua tidak diperbolehkan dalam Islam.

2. Melakukan Kebiasaan Baik Orang Tua

Orang tua selalu mengajarkan sesuatu hal yang baik, salah satunya dengan bersikap pada orang lain. Misalnya, saat orang tua selalu menyapa tetangga sebelum pergi bekerja, rutinitas ini juga baik untuk ditiru oleh anak untuk menjaga silaturahmi.

3. Memberikan Kehidupan yang Layak

Saat sudah mampu mencari nafkah, seorang anak juga dianjurkan untuk dapat memastikan kehidupan orang tuanya layak. Memang tidak ada kewajiban untuk ‘membayar’ jasa orang tua, tapi hal ini menjadi kebajikan bagi kedua orang tua.

4. Membuat Orang Tua Bangga

Orang tua juga sudah berusaha mendidik anak dengan baik hingga dewasa. Oleh karena itu, setiap anak wajib melakukan hal terbaik agar orang tua bangga atas pencapaian anaknya. Selama sahabat menuruti ajaran orang tua, orang tua akan selalu bangga dan bahagia.

5. Memprioritaskan Orang Tua

Dalam setiap kesempatan, sahabat harus selalu memprioritaskan orang tua, terutama ibu dan selalu berbuat baik kepadanya. Sabda Rasulullah SAW menyebutkan bahwa surga berada di bawah kedua kaki ibu sehingga sahabat harus selalu mengabdi kepadanya.

6. Menghargai Pilihannya

Sahabat pasti pernah mengalami perbedaan pendapat dengan orang tua. Semakin dewasa, pasti ada hal-hal yang tidak sesuai dengan prinsip hidup dan pola pikir. Namun, sahabat harus selalu menghargai pilihan yang dibuat oleh kedua orang tua meskipun berbeda.

7. Membantu Mewujudkan Keinginannya

Orang tua pasti selalu memberikan dukungan agar bisa mewujudkan mimpi anaknya. Karena itu, sahabat juga harus mendukung keinginan kedua orang tua. Menjelang masa tua, bantu orang tua untuk mewujudkan keinginan-keinginannya.

8. Rutin Memberi Kabar

Komunikasi dengan orang tua juga sangat penting untuk sahabat lakukan secara rutin. Hal ini menjadi salah satu cara untuk senantiasa bersilaturahmi, terutama memberikan kabar baik yang menyenangkan hati keduanya.

9. Merawat di Usia Senja

Orang tua sudah merawat anak sejak kecil sehingga anak juga sudah seharusnya merawat kedua orang tua yang sudah memasuki usia senja. Meski tidak mudah, menjaga dan merawat orang tua menjadi hal mulia yang akan diberi ganjaran berlipat oleh Allah.

10. Mendoakan

Jika sedang berada jauh dari orang tua, doakanlah keduanya agar selalu berada di dalam lindungan Allah. Hal ini tentu juga harus dilakukan ketika kedua orang tua telah tiada. Doa dari anak akan menjadi amalan yang dibawa oleh orang tua hingga ke alam kubur.

10 cara di atas merupakan kiat dan aktivitas yang sudah populer di kalangan masyarakat. Sudah sepatutnya setiap anak memuliakan orang tua dengan tulus dan ikhlas karena Allah SWT. Jadi, memuliakan orang tua sebenarnya bisa dilakukan dengan sikap-sikap sederhana. Tak perlu melakukan sesuatu yang sulit, sebagai anak kita perlu menjaga dan menyayangi keduanya sebagaimana kasih sayang mereka sejak kecil hingga sekarang.

Amaliyah Bulan Rajab, Refleksi Muslim Di Bulan Haram

Salah satu bulan mulia dalam kalender hijriah yaitu bulan Rajab. Bulan Haram (bulan yang dihormati) dalam Islam ada empat, satu di antara bulan Haram tersebut yakni Bulan Rajab, bulan yang memiliki banyak keutamaan di dalamnya.

Sebagaimana Rasulullah Saw menyampaikan dalam hadisnya, bahwa bulan Rajab adalah bulan Allah, bulan Sya’ban adalah bulan Rasulullah, dan bulan Ramadan adalah bulan Umat Nabi.

Syekh Abdul Qodir Al Jailani dalam Al-Gunyah meriwayatkan satu hadis di bulan Rajab:

رجب شهر الله، وشعبان شهري، ورمضان شهر أمتي

“Rajab bulannya Allah, Sya’ban bulanku (Rasulullah) dan Ramadhan adalah bulan umatku.”

Momen bulan Rajab adalah momen penting untuk refleksi bagi bulan Syaban dan bulan Ramadan mendatang. Pasalnya bulan Rajab dikatakan sebagai bulan menanam, bulan Syaban sebagai bulan menyiram dan bulan Ramadan sebagai bulan memanen.

Di dalam bulan Syaban terdapat banyak sekali amalan yang dapat umat muslim kerjakan di antaranya puasa sunah di hari pertama bulan Rajab, salat sunah dan dzikir al ma’tsurat di hari-hari lainnya.

Para Ulama dalam hal ini sepakat, bahwa amalan yang terdapat di dalam bulan Rajab ialah sebagai fadhoilul a’mal (keutamaan amal). Jika ragu untuk melakukannya, teman-teman bisa bertanya langsung kepada ulama setempat.

“Rajab merupakan bulan Allah SWT, yang mestinya umat Islam ketahui, untuk selalu meningkatkan kualitas takwa dan ibadahnya, agar sampai pada bulan Sya’ban dan bulan Ramadan. In syaa Allah.”

Amaliyah bulan Rajab bisa kita temukan pada bacaan berikut:

Dok. instagramstories/share

#amaliyah #bulanrajab

Editor: Muhammad Ni’amillah